Legenda sepakbola Brasil, Rivaldo, memberikan kecaman yang  keras atas perhelatan akbar sepakbola yang diadakan di negaranya. Rivaldo menganggap jika perhelatan Piala Konfederasi 2013 dan Piala Dunia 2014 menghabiskan biaya yang sangat tinggi di saat situasi negara yang sedang kritis.

Diadakkanya Piala Konfederasi dalam beberapa hari terakhir ini, memang banyak diwarnai dengan demo besar-besaran dari rakyat Brasil. Demonstran menyampaikan keluhan jika terlalu banyak dana yang mereka dikeluarkan Brasil untuk perhelatan sepakbola.

Sementara itu, fasilitas layanan umum tidak berjalan seperti yang direncakan. Fasilitas umum berjalan dengan sangat buruk, polisi bertindak dengan kekerasan dan korupsi di pemerintahan Brasil semakin marak terjadi. Hal tersebut pun juga yang dirasakan oleh Rivaldo sampai dia mengungkapkan apa yang dia rasakan di akun twitter miliknya.

Dia menulis jika sangat memalukan jika negara menghambur-hamburkan uang yang sangat banyak untuk Piala Dunia, sementara di sisi lain sekolah dan rumah sakit keadaannya sangat memprihatinkan. Dia menganggap jika saat ini tidak menjadi masalah yang serius jika negaranya tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia karena saat ini yang penting yaitu justru pendidikan dan kesehatan.

“Ini adalah kondisi yang sangat memalukan. Menghabiskan dana yang sangat banyak untuk Piala Dunia ini dan membiarkan rumah sakit dan sekolah tetap dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ini sangat ironis,”  tulis Rivaldo.

“Saat ini, tidak menjadi masalah jika kami tidak bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia, karena kita tidak membutuhkannya. Yang kita butuhkan saat ini jutsru pendidikan dan kesehatan,” tambah Rivaldo.

Keluhan dari mantan pemain AC Milan dan Barcelona ini tidak lain berdasarkan kisah pilu yang pernah dialaminya. Dia mengatakan jika dulu dia pernah ada di posisi sebagai orang miskin yang sulit untuk mendapatkan kesempatan belajar dan tidak mendapatkan pelayanan yang baik di rumah sakit.

“Saya pernah mengalami menjadi orang miskin . Saya pun pernah  merasakan bagaimana sulitnya mendapat kesempatan untuk belajar dan tidak mendapat pelayanan kesehatan yang baik,” lanjut Rivaldo.

“Masih terasa sakit, saat mengingat jika ayah saya tertabrak dan meninggal karena Rumah Sakit di Recife tidak bersedia merawatnya,” pungkas Rivaldo.