Hamparan rumput hijau dari lapangan dengan ukuran panjang 90-120 meter dan lebar 45-90 meter memang menjadi salah satu bagian dari lapangan yang di dejat kapangdaya tarik tersendiri bagi penikmat sepakbola.

Padahal, untuk mempertahankan lapangan sepakbola agar tetap rata dan nyaman dipergunakan saat pertandingan, sebenarnya mudah, namun perawatannya harus berkala. Hanya faktor biaya, kerap menjadi problem sendiri sehingga kualitas lapangan tak terjaga.

Stadion-stadion yang bagus itu kualitasnya bukan prima, seperti si Jalak Harupat (Bandung), GBK, dan Agus Salim di Sumatra Barat. Bisa dilihat dari warna rumput yang homogenitasnya atau tingkat keseragamannya lebih tinggi.

Sebab kualitas lapangan dapat mempengaruhi kualitas pertandingan yang dimainkan di lapangan tersebut. Bila kualitas permukaan lapangannya baik, pemain bisa melakukan permainan kaki ke kaki dengan indah. Tapi sebaliknya, bila permukaan lapangan buruk, pemain kesulitan untuk berkreasi karena arah bola kerap tak bisa diprediksi. Tontonan pun jadi kurang menarik.

Apabila pengelola ingin kualitasnya bagus, bisa memilih tekstur yang halus. GBK sendiri memakai rumput manila – bernama latin zoysia matrella- yang halus atau dengan daun ukuran kecil. Di Sleman yang saya tahu memakai rumput golf, itu lebih bagus lagi. Rumput rumput bermuda -cynodon l.c. rich- yang dipakai di situ, memiliki tingkat kehalusan yang lebih tinggi.

Rumput tidak memakan biaya banyak, karena di pembibitan hanya dilakukan penyiraman dan diberikan pupuk yang paling murah, urea. Kalau yang mahal itu bila sudah di lapangan, karena pemeliharaan itu komplit seperti penyiraman, pemangkasan, pemupukan itu rutin semuanya.

Dari beberapa stadion biasanya sudah ada pihak yang mengerti dalam pemeliharaan. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya ada faktor nonteknis yang membuat itu semua tidak maksimal, seperti biaya yang tersedia. Kalau ahli secara akademis, tidak seluruhnya namun mereka cukup berpengalaman.

Di Indonesia belum menggunakan teknologi baru dalam pemeliharaan. Kebanyakan masih menggunakan water cannon dengan penyiraman dari pinggir, belum memakai sprinkle yang tersebar di dalam lapangan sepakbola.

Lapangan yang baik adalah elastis dan tak membuat genangan, dan itu bisa menggunakan media pasir. Semua stadion (di Indonesia) sudah hampir menggunakan hal seperti itu. Bila ingin lapangan tampil prima, jadwal kompetisinya yang harus diatur agar lapangan lebih terawat.